Siapa Memberi Pasti Ditinggikan

Memberi Itu Menaikkan Derajat

Dalam kehidupan yang fana ini, setiap kita mendambakan keberkahan: harta yang cukup, hati yang tenang, keluarga yang bahagia, dan kedudukan yang mulia di sisi Allah dan manusia. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa kunci untuk semua itu bukanlah dalam banyaknya yang kita kumpulkan, melainkan dalam apa yang kita lepaskan – dalam hal ini apa yang kita berikan kepada sesama.

Allah ﷻ berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Inilah janji Allah, bahwa memberi bukanlah kehilangan, melainkan investasi abadi yang akan meninggikan derajat pelakunya – baik di dunia maupun di akhirat.

Memberi adalah Ciri Orang Bertakwa

Memberi, baik dalam bentuk zakat, infak, maupun shodaqoh, adalah tanda keimanan dan ketakwaan. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, sifat orang bertakwa selalu dikaitkan dengan aktivitas memberi.

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat…”
(QS. Al-Baqarah: 43)

“Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…”
(QS. Ali Imran: 134)

Menurut Imam Al-Ghazali, zakat dan infak adalah “ibadah sosial” yang tidak hanya menyucikan harta, tetapi juga hati. Dengan memberi, seseorang dilatih untuk mengalahkan nafsunya terhadap dunia dan diajarkan untuk mencintai sesama.

Memberi Mengundang Kemuliaan

Dalam sebuah hadits yang mulia, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya, tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang meminta. Sungguh, dalam memberi terdapat kehormatan, martabat, dan keagungan jiwa.

Bahkan Allah telah menjanjikan pengangkatan derajat bagi orang-orang yang gemar memberi:

“Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”
(QS. Saba: 39)

Menurut tafsir Al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan harta yang dikeluarkan di jalan-Nya. Justru sebaliknya: Allah akan memberikan pengganti yang lebih baik, baik secara materi, maupun dalam bentuk keberkahan hidup.

Kisah Para Dermawan yang Diangkat Derajatnya

1. Utsman bin Affan ra.

Ketika pasukan Islam mengalami kesulitan dalam perang Tabuk, Utsman bin Affan datang membawa 1000 dinar, 300 unta, dan perlengkapan lainnya. Rasulullah ﷺ sampai bersabda:

“Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah hari ini.”
(HR. Tirmidzi)

Artinya, sedemikian agungnya derma yang ia berikan, hingga dosanya pun diampuni oleh Allah.

2. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Dalam peristiwa infak besar-besaran, Abu Bakar membawa seluruh hartanya. Ketika ditanya oleh Rasulullah ﷺ, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah tersenyum penuh kagum. Inilah puncak dari iman dan ketulusan dalam memberi.

Zakat dan Infak: Jalan Naik Derajat Dunia Akhirat

1. Menaikkan Derajat Sosial

Memberi membuka hati orang lain. Dalam masyarakat yang saling berbagi, akan tumbuh kasih sayang, solidaritas, dan rasa hormat. Orang yang memberi akan dipandang mulia – bukan karena hartanya, tetapi karena kemuliaan jiwanya.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (balasannya) kepada mereka, dan bagi mereka pahala yang mulia.”
(QS. Al-Hadid: 18)

2. Menghapus Dosa dan Mengundang Rezeki

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.”

Dan dalam riwayat lain:

“Tidaklah harta itu berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa yang dimaksud “tidak berkurang” adalah karena Allah menggantikannya dengan keberkahan dan balasan yang lebih besar.

Tantangan Memberi di Zaman Modern

Di tengah dunia yang materialistik, memberi menjadi ujian tersendiri. Banyak orang yang merasa cukup dengan berzakat formal, tetapi enggan berbagi lebih dalam bentuk infak dan sedekah.

Padahal, justru dari sedekah itulah derajat kita ditinggikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai anak Adam! Infakkanlah (hartamu), niscaya Aku akan menafkahkan (memberi rezeki) kepadamu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menegaskan bahwa zakat adalah kewajiban, namun sedekah dan infak adalah tangga-tangga kemuliaan bagi orang-orang yang ingin dekat dengan Allah.

Bagaimana Cara Memberi yang Mengangkat Derajat?

  1. Ikhlas karena Allah.
    Jangan memberi untuk dipuji atau untuk pamrih dunia.

  2. Berikan yang terbaik.
    Allah berfirman:

    “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
    (QS. Ali Imran: 92)

  3. Tepat sasaran.
    Berikan kepada yang paling membutuhkan: fakir, miskin, yatim, musafir, dan mereka yang berjuang di jalan Allah.

  4. Kontinu meski sedikit.
    Nabi ﷺ bersabda:

    “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meski sedikit.”
    (HR. Bukhari)

Jadilah Sosok yang Ditinggikan Karena Memberi

Kita mungkin tak bisa menjadi orang kaya seperti Utsman atau Abu Bakar, tapi kita bisa memberi sebagaimana mereka memberi – dengan hati yang tulus, niat yang lurus, dan cinta yang mendalam kepada Allah dan sesama manusia.

Ingatlah, orang yang memberi akan diangkat derajatnya di hadapan Allah dan manusia. Harta yang kita simpan akan binasa, namun yang kita sedekahkan akan kekal selama-lamanya.

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
(QS. An-Nahl: 96)

Jika Anda merasakan getaran iman dalam hati saat membaca ini, maka sekaranglah waktunya untuk memberi. Sekecil apa pun, dengan ikhlas, insya Allah akan membuka pintu kemuliaan.

Siapa memberi, akan ditinggikan.

Wallahu’alam Bishawab